Turunnya Raja Minangkabau

Tambo Alam Minangkabau menceritakan bahwa Nenek Moyang orang Minangkabau adalah Sri Sultan Maharaja Diraja. Sultan ini memiliki 2 saudara lagi yakni Maharaja Depang yang menjadi Penguasa di Negri China dan Maharaja Alif yang berkuasa di Eropa ( dikenal dengan negri Rum ). Mereka adalah anak kandung dari Iskandar Dzulkarnain ( bertanduk dua ) bin Sis as. Sis as adalah anak kandung dari Nabi Adam as yang bunsu yang tidak memiliki kembaran.
Masih Menurut Tambo, Ketiga anak ini disuruh berlayar sesuai dengan daerah yang di perintahkan oleh ayah. Maharaja Depang di Tunjuk untuk berlayar ke daerah cina, Maharaja Diraja ditunjuk ke daerah khatulistiwa ( Nusantara ) sedang Maharaja Alif Tetap Melanjutkan Pemerintahan Ayahnya.
Dala Pada itu berlayarlah 3 saudara ini dengan membawa Mahkota dari ayahnya yang di pegang oleh Maharaja Diraja. Karna kecemburuan dari saudaranya maka terjadi perkelahian di daerah Lankapuri terhadap siapa yang patut membawa mahkota ini dan hasilnya Mahkota tadi jatuh kelaut dan di lilit oleh se ekornaga besar. Maka sang bijak Chati bilang Pandai Merekayasa bentuk mahkota tadi sehingga jadilah duplikat mahkota tadi. Dan perjalanan pun dilanjutkan menurut perintah dari ayahnya tadi.
Adapun maharaja diraja melanjutkan perjalan dengan membawa 4 pengiring yang di antaranya bernama Kucing Siam, harimau Campa, seekor kambing, Kamping Hutan dan Anjing Mu’alim. Mereka berlayar dengan menggunakan kapal yang terbuat dari kayu jati herang cendana namanya.
Setelah beberapa lama berlayar nampaklah sebuah puncak gunung sebesar telur itik dan dirahkan kapal tadi untuk mendarat disana, tapi sayang kapal tadi menabrak batu dan rusaklah kapal tadi. Raja pun Mengadakan sebuah sayembara yang berisi “ Siapa yang mampu memperbaiki kapal maka akan dinikahkan dengan anak Raja nantinya. Kebetulan Pengiring dengan nama binatang tadi itulah yang sanggup untuk memperbaiki kapal.

Bagian 1
———————————————————————————————————–

Dari sekupas cerita di atas yang Insya Allah akan kita coba menganalisa …..

Tokoh :

1. Iskandar Dzulkarnain ( Alexander de great )

Ditambo di jelaskan Iskandar Dzulkarnain yang memiliki arti bertanduk dua dapat di ungkapkan bahwa orang ini merupakan penguasa yang memiliki kekuasaan yang besar atau Raja ditimur dan dibarat.
Di dalam sejarah di ungkapkan seorang yang bernama Alexander de great adalah seorang raja yang termasyhur saat itu yang memiliki kekuasaan di timur dan dibarat yang menguasai mulai dari daerah Turki (Rum) armenia, Persia hingga daerah yang berada di barat yang belum memiliki peradaban sekalipun. Iskandariah yang diasaskan pada tahun 334 SM oleh Alexander selepas kejayaan beliau menawan seluruh tanah Greece. Daerah ini diasaskan bertujuan untuk menghubungkan Greece dengan Sungai Nil yang merupakan kawasan pertanian yang sangat subur pada waktu itu. Beberapa bulan selepas pengasasan Iskandariah, Alexander telah meninggalkan daerah ini & menuju ke Timur untuk menawan Empayar Parsi yang pada waktu itu di bawah pemerintahan Maharaja yang bernama Darius III. Dia kemudiannya tidak kembali ke daerah ini buat selama-lamanya. Tugas pentadbiran Iskandariah diserahkan kepada wizurainya yang bernama Cleomenes.

Alexander akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di Babylon pada tahun 323 SM, sewaktu usianya baru hendak mencecah 33 tahun. Ada yang mengatakan bahawa beliau dijangkiti suatu penyakit yang aneh. Wallahu ‘alam. Pada waktu itu, Alexander telah membentuk salah sebuah empayar yang terluas dalam sejarah dunia. Selepas kematian beliau, pemerintahan wilayah Mesir diambil alih oleh Ptolemy I & Iskandariah dijadikan pusat pentadbirannya.

Di dala Al Qur an Allah juga menjelaskan tentang cerita Iskandar Dzulkarnain yang merupakan Raja yang amat Termasyhur yang ceritanya mirip dengan sejarah penaklukan daerah oleh Alexander yang dikisahkan dalam Q.S Alkahfi ayat 83 – 99 :

‘Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad), mengenai Zulkarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepada kamu (wahyu dari Allah yang menerangkan) sedikit tentang perihalnya.” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan memerintah di bumi, dan Kami beri kepadanya jalan bagi menjayakan tiap-tiap sesuatu yang diperlukannya. Lalu ia menurut jalan (yang menyampaikan maksudnya). Sehingga apabila ia sampai ke daerah matahari terbenam, ia mendapatinya terbenam di sebuah matair yang hitam berlumpur, dan ia dapati di sisinya satu kaum (yang kufur ingkar). Kami berfirman (dengan mengilhamkan kepadanya), “Wahai Zulkarnain! Pilihlah sama ada engkau hendak menyeksa mereka atau engkau bertindak secara baik terhadap mereka.” Ia berkata, “Adapun orang yang melakukan kezaliman (kufur derhaka), maka kami akan menyeksanya; kemudian ia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu diazabkannya dengan azab seksa yang seburuk-buruknya. Adapun orang yang beriman serta beramal soleh, maka baginya balasan yang sebaik-baiknya; dan kami akan perintahkan kepadanya perintah-perintah kami yang tidak memberati.”

Kemudian ia berpatah balik menurut jalan yang lain. Sehingga apabila ia sampai di daerah matahari terbit, ia mendapatinya terbit kepada suatu kaum yang kami tidak menjadikan bagi mereka sebarang perlindungan daripadanya. Demikianlah halnya; dan sesungguhnya Kami mengetahui secara meliputi akan segala yang ada padanya.

Kemudian ia berpatah balik menurut jalan yang lain. Sehingga apabila ia sampai di antara dua gunung, ia dapati di sisinya satu kaum yang hampir-hampir mereka tidak dapat memahami perkataan. Mereka berkata, “Wahai Zulkarnain, sesungguhnya kaum Yakjuj dan Makjuj sentiasa melakukan kerosakan di bumi; oleh itu, setujukah kiranya kami menentukan sejumlah bayaran kepadamu (dari hasil pendapatan kami) dengan syarat engkau membina sebuah tembok di antara kami dengan mereka?” Dia menjawab, “(kekuasaan dan kekayaan) yang Tuhanku jadikan daku menguasainya, lebih baik (dari bayaran kamu); oleh itu bantulah daku dengan tenaga (kamu beramai-ramai) aku akan bina antara kamu dengan mereka sebuah tembok penutup yang kukuh. Bawalah kepadaku ketul-ketul besi”; sehingga apabila ia terkumpul separas tingginya menutup lapangan antara dua gunung itu, dia pun perintahkan mereka membakarnya dengan berkata, “Tiuplah dengan alat-alat kamu” sehingga apabila ia menjadikannya merah menyala seperti api, berkatalah dia, “Bawalah tembaga cair supaya aku tuangkan atasnya.” Maka mereka tidak dapat memanjat tembok itu, dan mereka juga tidak dapat menebuknya.

(Setelah itu) berkatalah Zulkarnain, “Ini ialah suatu rahmat dari Tuhanku; dalam pada itu, apabila sampai janji Tuhanku, Dia akan menjadikan tembok itu hancur lebur, dan adalah janji Tuhanku itu benar.” Dan Kami biarkan mereka pada hari itu (keluar beramai-ramai) bercampur-baur antara satu dengan yang lain; dan (kemudiannya) akan ditiup sangkakala, lalu Kami himpunkan makhluk-makhluk seluruhnya di Padang Mahsyar.’ (Surah Al-Kahfi: Ayat 83-99)

Trus hubungannya apa dengan maharaja yang bertiga????

Tunggu sambungannya………