“Dan Kami tidak mengutus kamu (wahai Mirza Ghulam Ahmad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 634 –> dijiplak dari: Q.S. al-Anbiya:107)

“Katakanlah (wahai Mirza Ghulam Ahmad): ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, hanya diberi wahyu kepadaku’.” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 633 –> dijiplak dari: Q.S. al-Kahfi:110 dan H.R. Ahmad)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (“kitab suci” Tadzkirah) pada malam lailatul qadr.”
(“kitab suci” Tadzkirah hal. 519 –> dijiplak dari: Q.S. al-Qadr:1)

PERSAMAAN MIRZA GHULAM AHMAD DAN PAULUS TARSUS

Kalau anda pernah membaca 13 (tiga belas) surat-surat Paulus yang terdapat dalam Alkitab/Bible dan mencermati semua kisah tentang Yesus, baik yang terdapat dalam injil-injil kanonik maupun injil-injil apokrif, lalu anda membandingkannya dengan pernyataan-pernyataan, tulisan-tulisan, dan sejarah Mirza Ghulam Ahmad, maka anda akan menemukan sekurang-kurangnya 2 (dua) persamaan prinsip/pokok antara Mirza Ghulam Ahmad dan Paulus Tarsus, berikut ini:

1. Pernyataan-pernyataan keduanya bersifat membesarkan diri-sendiri dengan mendompleng tokoh agama terkenal sebelumnya. Paulus Tarsus mendompleng Yesus (nabi Isa as) sebagai alat untuk mempopulerkan dirinya, sementara Mirza Ghulam Ahmad mendompleng nabi Muhammad saw sebagai alat untuk memasyhurkannya.

Paulus Tarsus menyatakan:

“Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” (Galatia 1:11-12)

Pernyataan Paulus Tarsus tersebut terlalu mengada-ada. Injil yang manakah yang dia terima dari Yesus? Jika yang dia maksud adalah kitab-kitab Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes, bukankah keempatnya baru dikenal sebagai injil setelah dilakukan kanonisasi Perjanjian Baru oleh Dewan Hippo pada tahun 393 M jauh setelah masa Yesus dan Paulus Tarsus sendiri? Lebih jauh, keempat kitab tersebut tampak jelas ditulis oleh sekurang-kurangnya empat orang yang berbeda-beda jauh setelah masa Yesus? Jadi, Injil yang bagaimanakah yang dia terima langsung dari Yesus? Ketahuilah, Yesus tidak pernah kenal ataupun bertemu dengan Paulus Tarsus!

Mirza Ghulam Ahmad menyatakan:

“Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin-i-Ahmadiyya, Tuhan Mahakuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’kub, aku Yusuf, aku Musa, aku Daud, aku Isa, dan aku adalah penjelmaan sempurna dari nabi Muhammad saw, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi.” (Haqiqatul Wahyi hal. 72)

Mirza Ghulam Ahmad juga konon menerima wahyu:

“Oh, pemimpin sempurna, engkau (wahai Mirza Ghulam Ahmad) seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim.” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)

Lebih lanjut, Basyiruddin, adik Mirza Ghulam Ahmad, menyatakan:

“Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffar!” (S.k. al-Fazal, 26 Juni 1922)

Klaim Mirza Ghulam Ahmad dan adiknya tersebut nyata-nyata bertentangan dengan nash Quran (firman Allah swt) berikut:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.33:40)

2. Keduanya berdakwah untuk kepentingan dan mendapat dukungan dari bangsa penjajah. Paulus Tarsus berdakwah untuk kepentingan dan mendapat dukungan dari penjajah Romawi dan Yunani atas bangsa Palestina, sementara Mirza Ghulam Ahmad berdakwah untuk kepentingan dan mendapat dukungan dari penjajah Inggris atas bangsa India.